"Makanya apa apa diseleksi, salah pilih kan jadinya" pekik ibu sembari menyelesaikan cucian piringnya.
kemudian... "pranggg" terdengar suara gaduh yang berasal dari rantang, kali ini memang tak sengaja terlepas dari tangannya.
Biasanya, di jam seperti ini ibuku sudah menggerutu sambil melakukan pekerjaan rumah di area dapur. Entah mencuci perabotan sisa makan semalam, merendam pakaian yang padahal sudah ada mesin untuk mencuci, atau sedang menyiapkan beberapa gelas teh hangat dan gorengan.
Oya, ibuku memang biasa memarahi anak-anaknya sembari melakukan ini dan itu. Akupun sudah hapal, dan kalau bunyi-bunyian dirasa terlalu berisik aku akan kembali ke kamar, menutup pintu dan menghibur diri. Atau menangis.
Apakah memang banyak ibu versi seperti ibuku ini ya? Akupun tak paham. Yang kutau teman-temanku bahagia selalu, mendapat perhatian dan kasih sayang, atau bagi mereka yang kurang beruntung karena orang tuanya berpisah setidaknya bisa bersenang-senang dengan uang saku yg mereka dapat dari orang tuanya. Mereka terlihat bahagia.
Aku? ahhh, kamu lihat saja badanku yang kurus kering ini, tak ada gairah untuk makan, entah terlalu banyak mikir hal-hal gak penting, atau memang tak memiliki nafsu makan yang baik kalau di rumah. Dan yang pasti aku ngirit orangnya. Jadi seleraku yang suka dengan makanan cita rasa tinggi + uang saku tipis sangat mendukungku memiliki badan seperti sekarang.
Ah ya, aku harus segera kembali ke tanah rantau, meneruskan pekerjaanku, menggalaukan nasibku, sekaligus kabur dari hiruk pikuk yang membuat dada sesak.
Sampai jumpa!
- Aisyah, 22 tahun yang selalu menolak tua
Tidak ada komentar:
Posting Komentar